Lomba Esai Strategi Pengelolaan Sampah pada Masa Pandemi dan Pasca Pandemi Karya Nadia Patricia Tarigan

ADA APA DENGAN SAMPAH ANORGANIK? DAPATKAH KITA MENGELOLAHNYA?

Karya : Nadia Patricia Tarigan / Universitas Kristen Satya Wacana

Sub Tema: Sampah Non-Organik

    Nama saya Nadia Patricia Tarigan dan akrab dipanggil dengan nama Nadia. Saya lahir pada 29 Januari 2001 di kota Pematangsiantar, Sumatera Utara dan sekarang sedang menimba S1 Pendidikan Biologi di Universitas Kristen Satya Wacana. Penulisan esai ini sendiri saya tujukan untuk mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh Universitas Sanata Dharma dengan tema “Strategi Pengelolaan Sampah pada Masa Pandemi dan Pasca Pandemi”.

Apa Itu Sampah? 

    Penyebaran dan penumpukan sampah tidak mengenal waktu, situasi dan tempat. Dari dulu hingga masa pandemi seperti ini sampah masih saja sebagai pembicaraan yang kerap tak ada ujungnya. Masyarakat Indonesia sangat minim rasa kepeduliannya terhadap lingkungan termasuk sampah anorganik. Masih banyak sekali di Indonesia belum menerapkan peduli lingkungan terhadap sampah termasuk sampah anorganik seperti plastik. Sampah anorganik merupakan musuh utama yang semakin lama jumlahnya tidak berkurang dan cenderung diabaikan keberadaannya. Hal ini disebabkan karena sulitnya pengelolaan sampah anorganik, selain itu juga karena sampah jenis ini tidak menyebabkan dampak yang secara langsung dilihat manusia (tidak menimbulkan bau tidak sedap). Padahal jika semakin lama dan semakin banyak penumpukannya dapat menimbulkan bau tidak sedap. 

    Saya mencoba sedikit bercerita mengenai penggunaan kantong plastik untuk berbelanja. Tidak lama beberapa bulan yang lalu, saya pergi ke Jakarta dan saya berbelanja di suatu supermarket terdekat dengan lokasi saya. Karena saya tidak mengetahui dan baru pertama kali ke Jakarta, saya pikir akan sama dengan di Salatiga tempat saya tinggal mengenai proses perbelanjaan. Setelah saya melakukan transaksi pembayaran belanja, saya tidak diberi kantong plastik dan dibiarkan untuk membawa semua belanjaan saya sendiri dengan menggunakan tangan. Walapun jaraknya tidak begitu jauh tetapi belanja saya lumayan banyak yang dimana saya membawanya dengan memeluk semua belanjaan saya sampai rumah. Dan setelah saya sadari, ternyata jika berbelanja, harus menggunakan tas milik pribadi karena pihak supermarket tidak akan memberikan kantong plastik. Bahkan ditempat saya saja belum ada supermarket yang menerapkan sistem dengan mengurangi penggunaan kantong plastik. Saya sempat berpikir jika di seluruh Indonesia dilakukan begitu, saya yakin pasti bakal berkurang persentasi sampah plastik. Dilansir dari Sistem Informasi Pengelolahan Sampah Nasional (SIPSN) sampah plastik adalah sampah terbanyak kedua setelah kain. 

Strategi Pengelolahan : Berhasil atau Tidak? 

    Dengan melihat kondisi dan situasi terkait sampah anorganik yang menyebar saat ini, maka langkah yang dapat dilakukan masyarakat yaitu dengan hal kecil terlebih dahulu di seluruh penjuru masyarakat yang ada di Indonesia. Pertama, melakukan metode penggunaan kembali (Reuse), dimana dengan melakukan metode ini termasuk dengan metode penggunaan kembali barang bekas pakai, memperbaiki barang yang rusak, mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali. Kedua, dapat melakukan metode pengurangan (Reduce), pada metode ini yaitu sebuah metode yang sangat penting dalam pengelolaan sampah dengan cara pencegahan sumber sampah atau yang dikenal dengan “Pengurangan Sampah” . Hal ini sangat efektif bisa dilakukan oleh masyarakat setempat untuk mengurangi jumlah atau tosisitas sampah, biaya penanganan, serta dampak terhadap lingkungan yang dilakukan melalui perancangan dan pabrikasi bahan pengemas produk dengan toksisitas yang rendah, volume bahan minimum serta tahan lama. Kegiatan ini dapat dilakukan selain sesuai dengan pengalaman yang saya utarakan yaitu mengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja, dapat juga dengan menghindari memakai dan membeli produk yang dihasilkan sampah dalam jumlah besar, dan jika bisa diutamakan untuk menggunakan produk yang dapat diisi ulang (refill). Ketiga, dengan melakukan metode daur-ulang (Recycle) dimana artiannya yaitu sebagai proses menjadikan bahan bekas atau sampah dapat menjadi sesuatu yang berguna sehingga bermanfaat untuk mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, manfaat jika melakukan metode ini adalah dapat menghemat energi, mengurangi polusi, mengurangi kerusakan lahan dan emisi gas rumah kaca pada proses pembuat barang baru. Daur ulang merupakan bagian ketiga dalam proses hierarki sampah 3R (Reuse, Reduce, and Recycle) dan dapat dilakukan pada sampah kaca, plastik, kertas, logam, tekstil, maupun barang elektronik. Sebagai contoh, proses daur ulang alumunium diyakini mampu menghemat energi hingga 95 persen dan mengurangi polusi udara hingga lebih dari 90 persen dibandingkan proses pembuatan alumunium dari bahan mentah (biji tambang). 

    Salah satu problem utama dalam penanggulangan sampah anorganik adalah sampah plastik, mengapa plastik menjadi problem utama? karena plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa didegradasi bahkan bisa dibilang tidak mungkin karena membutuhkan beberapa generasi agar bisa terdegradasi, sedangkan setiap generasi selalu menghasilkan sampah plastik. Konvensi plastik menjadi bahan bakar minyak juga menjadi strategi yang jitu dalam pengelolaan sampah plastik. Plastik pada dasarnya adalah rantai-rantai hidrokarbon yang panjang, dengan mengubah bentuknya menjadi kaitan dan rantai yang diinginkan akan menghasilkan nilai bahan bakar yang tinggi. Maka dengan itu jika strategi berhasil maupun tidak harus ada kesadaran dari masyarakat dan peran pemerintahan di dalamnya.

Tindakan Pemerintah Terkait Sampah Anorganik 

  1. Dilansir dari Berita Pemerintahan Provinsi Jawa Barat yang bekerja sama dengan PT Advis Media Digital untuk penggunaan aplikasi “Greeny” dalam hal pengelolaan sampah anorganik dengan tujuan peningkatan kualitas lingkungan hidup di Jawa Barat melalui teknologi informasi dan komunikasi serta pemanfaatan jasa layanan perbankan. Dimana Asisten Administrasi Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat Dudi Sudrajat mengatakan, aplikasi tersebut hampir mirip dengan layanan jemput masyarakat. Namun bedanya sampah anorganik yang dihasilkan masyarakat yang diambil oleh petugas dari rumah, kantor atau komunitas setiap periodenya. Nantinya sampah yang diambil dari masyarakat tersebut akan ditukar dalam bentuk uang digital.
  2. Dilansir dari Kompas Dewata dimana sampah plastik dapat ditukar menjadi beras, tepatnya di Gianyar, Bali. Anggota DPRD kabupaten Gianyar ini menjelaskan hal tersebut dilakukan selain untuk menunjang kebutuhan warga ditengah pandemi, kegiatan ini juga untuk mengedukasi warga dari bahaya sampah plastik terhadap lingkungan.
  3. Dilansir dari Kompas TV Madiun, sampah plastik ditukar dengan sembako, tepatnya di Jember, Jawa Timur dimana upaya ini selain menumbuhkan rasa kebersihan lingkungan juga membantu perekonomian warga di tengah pandemi Covid-19.

    Saya sudah sedikit berapresiasi kepada pemerintah karena sudah melakukan program peduli lingkungan terutama terkait sampah anorganik, walaupun belum disetiap daerah melakukan program tersebut. Sampah anorganik rumah tangga seperti kemasan kopi, mie instan, botol dan lainnya yang telah dikumpulkan, ditukarkan dengan kebutuhan rumah tangga harian. Kegiatan pengolahan dilakukan setelah pengumpulan sampah. Diawali dengan pembersihan sampah kemudian dilanjutkan dengan proses selanjutnya. Tujuan utama kegiatan adalah mengedukasi warga mengenai macam-macam pengolahan sampah anorganik, mengurangi sampah anorganik skala rumah tangga dan memanfaatkan sampah anorganik menjadi barang berguna. Kegiatan dari pemanfaatan sampah ini antara lain melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat mengenai cara memanfaatkan sampah khususnya sampah anorganik yang sudah tidak terpakai menjadi barang layak pakai bahkan dari pemanfaatannya dapat menghasilkan keuntungan. Selain sosialisasi mengenai pemanfaatan sampah, dilakukan pula sosialisasi mengenai pengumpulan sampah anorganik rumah tangga.

Efek Sampah Anorganik : Perairan dan Daratan? 

    Indonesia adaah salah satu pusat dari ekosistem laut di Indonesia karena merupakan rumah dari 76% terumbu karang, hutan bakau dan ragam jenis spesies laut lainnya. Akan tetapi kekayaan bahari yang kita miliki saat ini tidak akan bertahan hingga generasi mendatang. Karena kesadaran kita tentang menjaga ekosistem laut dari sampah masih sangat minim, dimana slogan seperti “Buanglah Sampah Pada Tempatnya” terkadang hanya sebuah tulisan untuk menaikkan nilai kepedulian kita terhadap orang lain. Banyak kita ketahui bahwa hewan di laut banyak menderita bahkan mati akibat sampah plastik yang meyebar hingga ke dalaman laut. Seperti yang dialami oleh kuda laut dengan sampah plastik yang mengikat di bagian ekornya. Saya rasa jika mereka bisa berbicara, pasti mereka menangis dan meminta tolong kepada kita. Jadi marilah mulai dari sekarang jaga lingkungan dan keanekaragaman yang ada, agar Indonesia menjadi negara yang bersih, aman serta nyaman. Tak hanya di perairan, efek sampah anorganik juga dirasakan oleh daratan, coba kalian perhatikan disekeliling tempat tinggal kita apakah masih banyak sampah anorganik yang berserakan? Jika iya, apakah menghasilkan bau yang tidak sedap? Nah, tentu saja iya, karena penumpukan sampah anorganik dapat menghasilkan bau yang tidak sedap dan juga memunculkan penyebab penyakit bakteri, virus, jamur, maupun parasit laiinya dan memperburuk penglihatan kita terhadap lingkungan.

Kesimpulan dan Penutup 

    Maka setelah kita mengetahui efek sampah anorganik terhadap diri dan lingkungan kita, sudah seharusnya dengan inisiatif kita untuk melakukan hal yang baik untuk diri kita dan lingkungan kita. Karena lingkungan ini untuk kita, jadi jika kita yang tidak merawatnya maka kita yang akan rugi dan menderita karena ulah kita sendiri. Ayo mulai saat ini kita merawat lingkungan kita dari sampah. Apalagi di masa pandemi seperti ini sekiranya kita dapat mengurangi jumlah peningkatan sampah anorganik hingga masa pasca pandemi nanti dan sampai kedepannya (Kalau bukan Sekarang kapan lagi? Kalau bukan Diri Sendiri Siapa Lagi?).







Daftar Pustaka 

Admin (2021). Tukar Sampah Non-Organik Dengan Uang. Berita. Website Resmi Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat. 

(https://jabarprov.go.id/index.php/news/40905/2021/01/12/Tukar-Sampah-Non-OrganikAnda-dengan-Uang) 

Bob, M. (2013). Plastik Dapat Gantikan BBM di AS. [Online]. Tersedia : http://www.voaindonesia.com/content/plastik-dapat-gantikan-bbm-dias/1536410.html. 

KompasTv (2020). Sampah Plastik Di Tukar Menjadi Beras. Gianyar, Bali. Tersedia : (https://youtu.be/7B31ZOqqYE8) 

Kompas TV Madiun (2021). Sampah Non Organik Ditukar Dengan Sembako. Tersedia : (https://youtu.be/lPtlr6kHh6Q) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penangkaran Kupu-Kupu di USD

Lomba Esai Strategi Pengelolaan Sampah pada Masa Pandemi dan Pasca Pandemi Karya Scholastica Susanti

POTENSI DAN TANTANGAN PENGELOLAAN CURUG LAWE