POTENSI DAN TANTANGAN PENGELOLAAN CURUG LAWE

Karya : Antonia Bara langit


A. PENDAHULUAN

Penurunan angka penderita covid 19 membuat kebijakan diperlonggar berdampak pada peningkatan ketertarikan masyarakat untuk melakukan aktivitas diluar ruangan. Ekowisata yang biasanya diminati berupa wisata yang bersifat alami seperti gunung, sungai, air terjun, curug, dan lainnya. Salah satu objek ekowisata yang terdapat di Indonesia adalah Curug Lawe yang ada di Semarang. Curug Lawe memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi objek ekowisata yang masih asri dan alami. Pengembangannya tidak akan lepas dari tantangan yang ada. Untuk memperlancar pengembangan sehingga sesuai dengan kelestarian dan juga aspek ekonomi perlu dilihat potensi dan tantangan yang akan dihadapi. Berdasarkan hal tersebut potensi dan tantangan dalam pengembangan ekowisata di Curug Lawe dibahas.

B. PEMBAHASAAN

Kawasan wisata Curug Lawe terletak di kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Curug Lawe berasal dari mata air gunung ungaran dengan tinggi 100 m (Herlambang, 2016). Potensi alam yang ada berupa terdapat tipe vegetasi yang beraneka ragam. Selain itu terdapat satwa seperti lutung hitam, owa jawa dan rusa yang berkeliaran disekitar hutan pinus. Potensi tersebut sudah didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana yang tersedia meliputi akses jalan berbentuk aspal dengan lebar sebesar 3 meter. Selain itu ketersediaan area parkir, mushola, warung makan, dan papan penunjuk jalan sudah juga tersedia (Yuliardi, 2021). Sarana dan prasarana yang memadai dapat menunjang pengembangan potensi sumber daya alam yang ada. Akan tetapi akses jalan setapak yang masih kurang memadai dan aman dari parkiran menuju ke lokasi curug pelu diperbaiki oleh pihak pengelola. Tantangan lain berupa terancamnya kelestarian lingkungan dan terganggunya fauna disekitar curug. Kontak langsung antara fauna dan pengunjung dapat menimbulkan perubahan perilaku pada satwa liar karena kegiatan pemberian makan atau stress. Keselamatanpengunjung juga perlu diperhatikan karena area curug yang berdekatan dengan hutan pinus. Solusi yang dapat dilakukan untuk menjawab tantangan yang tersebut dapat berupa pertama perbaikan jalan setapak dengan bahan batu alam yang landai dan besi pengaman dapat dipilih sehingga lebih nyaman dan aman. Kedua, pembuatan aturan pembatasan area – area yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung, area tersebut berkaitan dengan habitat atau jalur mencari makan fauna. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kontak antara fauna dengan pengunjung dan menjaga keasrian lingkungan sekitar. Ketiga penguatan peraturan dan himbaun untuk membuang sampah pada tempatnya atau memberi makan binatang liar perlu diperjelas pada saat pengunjung memasuki area curug. Pengerahan personil penjaga lingkungan dan wisatawan juga dapat ditambahakan sehingga area curug dapat lebih terkontrol. Keempat pemberian informasi mengenai flora dan fauna dapat ditambahakan disepanjang jalan menuju curug, sehingga nilai edukasi dan pengetahuan juga semakin nampak.

C. KESIMPULAN

Potensi berupa keberagaman flora dan fauna dapat menjadi daya tarik dan pengembangan ekowisata, tantangan berupa keamanan dan kelestarian flora serta fauna perlu diperhatikan sehingga tetap lestari.

D. DAFTAR PUSTAKA

Herlambang , Alamsyah Elang Nusa, Mochamad Hadi, dan Udi Tarwotjo.(2016). Struktur Komunitas Capung di Kawasan Wisata Curug Lawe

Benowo Ungaran Barat. Bioma. Vol.18(1):70-78.

Yuliardi ,Ibnu Setyo , Anityas Dian Susanti , dan Ratri Septana Saraswati.(2021). IDENTIFIKASI KELAYAKAN OBYEK WISATA ALAMDENGAN PENDEKATAN 4A (ATTRACTION, AMENITY,ACCESIBILITY, DAN ANCILLIARY). Jurnal Arsitektur. Vol.1(2): 36 -54.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penangkaran Kupu-Kupu di USD

Lomba Esai Strategi Pengelolaan Sampah pada Masa Pandemi dan Pasca Pandemi Karya Scholastica Susanti