Menyulap Sampah Menjadi 'Vertikal Garden'
Apa yang kita pikirkan ketika mendengar istilah sampah ? Pasti yang terlintas dalam benak kita adalah, setumpuk limbah yang menimbulkan aroma bau busuk yang menyengat dan menganggu.
Perlu kita ketahui bahwa kondisi
sampah di Indonesia sangatlah memprihatinkan. Jumlah sampah yang begitu banyak
namun pengelolaan sampah masih rendah, ditambah lagi tempat pembuangan sampah
yang menjadi persoalan. Biasanya jika satu orang sudah membuang sampah di suatu
tempat yang bukan tempat khusus untuk membuang sampah, maka otomatis orang lain
akan mengikutinya sehingga terciptalah tempat pembuangan sampah yang baru. Diantara
beragam jenis sampah yang dihasilkan manusia, ada sampah jenis plastik yang
sulit diuraikan oleh alam. Sampah plastik memerlukan waktu sekitar ratusan
hingga ribuan tahun lamanya untuk dapat terurai secara alami. Dengan
permasalahan yang ada, divisi konservasi Himpunan Mahasiswa Program Studi
(HMPS), pendidikan Biologi, Universitas
Sanata Dharma berinisiatif mengubah barang bekas yang sudah tidak lagi
digunakan menjadi bermanfaat dan memiliki nilai lingkungan yang lebih baik.
Recycle merupakan salah satu bagian dari
5R (Reuse, Reduce, Recycle, Replace, dan Replant). Secara singkat, recycle
dapat diartikan sebagai daur ulang. Salah satu cakupan dalam kegiatan ini
merupakan sebuah proses implementasi pengelolaan kembali sampah atau
benda-benda bekas menjadi barang atau produk baru yang memiliki manfaat. Hal
ini bertujuan untuk menambah kreativitas mahasiswa prodi pendidikan biologi mengenai
pemanfaatan barang bekas. Dalam kegiatan ini, mahasiswa memunculkan ide-ide kreativitas
baru agar dapat memaksimalkan benda-benda yang sudah tidak terpakai menjadi
bermanfaat kembali. Kami memaksimalkan 1 ide yaitu membuat sebuah taman mini
berbentuk Vertikal Garden.
Selama 2 minggu sebelum pelaksanaan
kegiatan, seluruh anggota divisi konservasi yaitu Patrick, Indri, Lely, Rian
dan saya sendiri, berupaya menyiapkan wadah berupa trash bag sebagai tempat untuk mengumpulkan botol bekas sisa air
mineral atau minuman botol plastik lainnya. Tempat pengumpulan botol tersebut
terdapat di depan laboratorium pendidikan biologi Universitas Sanata Dharma. Setelah
botol terkumpul, barulah kami memulai eksekusi pada hari Jumad, 2 Maret 2018.
Kegiatan ini berlangsung pada jam 15.00 s/d 17.00 WIB. Botol air mineral yang
mendominasi terpenuhnya wadah sampah tersebut. Kami memanfaatkan botol sebagai
pot untuk mengisi media tanam berupa tanah. Jenis tanaman yang ditanam berupa beberapa
jenis bunga gantung seperti bunga krokot. Dari keseluruhan jumlah botol kami
menghasilkan sekitar ±50 pot tanaman. Pot-pot bunga tersebut diberikan kawat
pada kedua sisi ujung yang digunakan untuk menggantung tanaman pada dinding.
Pot yang digantung membentuk sebuah model taman mini dengan modifikasi vertikal garden. Kegiatan ini
memanfaatkan galeri biologi yang selama ini dapat dikatakan belum dimanfaatkan
secara maksimal, disulap dalam waktu singkat menjadi sebuah taman mini yang
memiliki nilai estetika yang tinggi.
Kami melibatkan masyarakat pendidikan
biologi Universitas sanata Dharma dalam kegiatan ini. Alhasil menciptakan kerja
sama yang baik ketika kami saling membantu dalam upaya kecil untuk
mengembangkan prodi tercinta yaitu prodi Pendidikan Biologi yang ternaungi di
bawah payung Sanata Dharma.
Ditulis oleh : Oktafina Mone dan teman-teman konservasi (P.Biologi)
Gambar 1.
Gambar 2.
Gambar 3.
Gambar 4.
Ket : Gambar 1-4
Proses pemotongan botol bekas untuk dimodifikasi menjadi pot bunga gantung.
Gambar 5. Proses
pemasangan kawat sebagai alat bantu untuk menggantung pot dan pelubangan bagian
bawah botol sebagai tempat sirkulasi air sebagai penunjang kehidupan tanaman
Gambar 6. Jenis bunga krokot
yang ditanam
Gambar 7. Hasil vertical garden
Gambar 8. Percobaan
menggantung pot dari botol bekas di gazebo Biologi









Komentar
Posting Komentar