Catatan dari Lawu oleh Pendaki Siput
Langit
kala itu mendung. Jogja sedang senang-senangnya menangis beberapa minggu ini.
Tetapi hal ini tidak menyurutkan semangat dari teman-teman HMPS Pendidikan
Biologi USD dalam melaksanakan observasi untuk lokasi ekspedisi. Observasi dilaksanakan
di Gunung Lawu. Gunung Lawu merupakan gunung tertinggi ke-3 di Jawa Tengah.
Gunung ini terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan
Kabupaten Magetan, Kabupaten Ngawi Jawa Timur. Walaupun memiliki ketinggian
3.265 mdpl, jalur pendakian Gunung Lawu dapat terbilang bagus karena sudah ada
jalan dan tangga batu yang dibuat oleh warga setempat. Observasi dilakukan pada
tanggal 1 April 2018 bertepatan dengan Hari Raya Paskah. Tim yang berangkat beranggotakan
10 orang dan tidak sepenuhnya anggota HMPS Pendidikan Biologi USD. Penulis
merupakan salah satu dari 10 orang tersebut. Pendakian ini semakin menantang
karena hanya 4 dari 10 anggota yang sudah biasa mendaki dan 2 dari 10 anggota
yang sudah pernah mendaki Gunung Lawu. Tetapi kembali lagi, semangat dari semua
anggota tidak surut sama sekali. Hal ini semakin menantang kami untuk bisa mendaki
sampai puncak!
Dengan
menggunakan kereta api, tim berangkat dari stasiun Lempuyangan (Yogyakarta)
untuk bertolak ke stasiun Solo Balapan (Solo). Sekitar pukul 4 sore, tim
melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Karanganyar untuk menuju basecamp Gunung Lawu. Jalur pendakian
yang kami pilih adalah lewat jalur Cemara Sewu. Setelah melakukan beberapa
persiapan dan berdoa, kami akhirnya mulai melakukan pendakian tepat pada pukul
5 sore. Kala itu hujan rintik masih membasahi kegiatan pendakian kami. Tanah masih
cukup basah tetapi langit sudah mulai menampakan parasnya. Pendakian kami dari basecamp ke pos 1 ditemani dengan langit
sore yang sangat indah. Sebelum sampai di pos 1, kami menyempatkan untuk
beristirahat sejenak di warung mendoan yang cukup dekat dengan pos 1. Pada
waktu kami sampai di warung, langit sudah gelap. Kira-kira pukul 7 malam. Tempe
mendoan yang baru digoreng menjadi hidangan yang pas untuk dimakan di udara dingin
ini. Setelah beberap porsi tempe mendoan mengisi perut, rasa lelah kami seakan
hilang. Sebelum melanjutkan perjalanan ke pos 2, beberapa anggota menyempatkan
untuk mengisi air minum terlebih dahulu di sendang yang lokasinya tidak jauh
dari warung.
Kami
melanjutkan perjalanan yang rupanya cukup panjang. Jarak dari pos 1 ke pos 2
rupanya cukup jauh sehingga memaksa kami berkali-kali untuk break sejenak. Namun nasihat dari
pedagang di warung mendoan selalu berada di dalam pikiran kami masing-masing.
‘Jangan
pernah sedikit pun mikirin kalau tujuan kalian masih jauh, lama sampainya, udaranya
dingin sekali, atau keluh kesah lainnya. Gunung Lawu itu unik. Kalau ada
pendaki yang mengeluh, maka ia akan benar-benar merasakan apa yang dikeluhkannya.”
Perjalanan
kami akhirnya menemui titik terang. Setelah banyak jalanan terjal yang didaki,
akhirnya kami sampai di pos 2 pada pukul 11 malam. Total lama perjalanan kami
adalah 6 jam dari basecamp sampai pos
2. Untuk hitungan pendaki profesional, waktu tersebut terhitung sangat lama. Biasanya
pendaki bisa sampai di puncak Gunung Lawu hanya dalam waktu 9-10 jam. Tetapi
hal ini bisa kami maklumi, karena sebagian besar anggota tim masih belum biasa
dalam mendaki gunung. Pendakian Siput
menjadi slogan kami supaya kami tetap bersemangat dan selalu ingat kemampuan
fisik satu sama lain. Kami akhirnya memutuskan untuk bermalam di pos 2 karena
waktu sudah hampir tengah malam dan bau belerang sudah cukup menyengat. Setelah
membangun tenda, kami langsung beristirahat untuk melanjutkan pendakian kami di
esok pagi. Cuaca di tengah malam sampai subuh (sekitar jam 2 atau 3) rupanya
didominasi oleh badai. Udara dingin semakin menusuk tulang dan kedua tenda kami
sempat bergoyang karena angin yang cukup kuat. Malam itu kami hanya bisa
berdiam di dalam tenda sambil berdoa agar pagi nanti cuacanya cerah.
Syukurlah
doa kami terkabul. Pagi itu kami disambut dengan hangatnya sinar mentari yang
malu-malu muncul dari timur. Langit menunjukan warna biru cerah dipadu dengan
gumpalan putih dari awan. Udara kala itu sangat segar. Tidak ada asap
kendaraan, benar-benar segar dan membuat tim kembali bersemangat. Setelah sarapan,
kami melanjutkan perjalanan tepat pada pukul 8. Perjalanan kami kembali
diwarnai dengan perjumpaan dengan berbagai macam bunga dan tanaman paku. Tidak
hanya tanaman, tim juga sering menemui burung Jalak Lawu. Kami sangat senang
bisa bertemu spesies burung ini karena cukup jarang untuk bisa ditemukan.
Kesempatan untuk selfie atau sekedar
foto pemandangan juga tidak dibuang begitu saja. Sepanjang perjalanan kami
tidak hanya berusaha menyemangati diri sendiri dan kelompok, tetapi juga
menyemangati orang-orang yang berpapasan dengan kami. Kalimat ‘semangat mas /
mbak!’, ‘bentar lagi sampai kok.’, ‘tidak jauh kok mas/mbak, sebentar lagi
sampai.’ menjadi hal yang sering terucap dari mulut kami semua.
Hingga
akhirnya kami sampai di pos 5. Pos tersebut berada di ketinggian 3.116 mdpl. Kami
semua bahagia sekali bisa sampai di titik ini. Sedikit lagi sampai di puncak,
sedikit lagi tiba di ujung perjalanan. Pemandangan yang disuguhkan dari tempat
setinggi ini rupanya sangat memanjakan mata. Savana di kanan dan kiri
jalan ditambah dengan kabut menambah efek dramatis yang kompleks. Keadaan alam di Gunung Lawu benar-benar menyita perhatian. Keindahan
alamnya seakan tidak pernah terjamah oleh tangan-tangan rakus pecinta uang. Kami
pun melanjutkan perjalanan hingga sampai di warung nasi pecel melegenda dari
Gunung Lawu. Pada waktu itu tepat pukul 11. Siapa yang sangka akan menemukan
sebuah warung yang menjual nasi pecel di atas ketinggian 3.116 mdpl bukan? Kami pun menyempatkan untuk beristirahat sebentar
sambil mengisi tenaga di warung tersebut.
Sayang,
kami tidak dapat melanjutkan perjalanan hingga ke puncak karena kendala cuaca. Hujan
kembali membasahi tanah Gunung Lawu untuk yang kesekian kalinya. Pada pukul 1
siang akhirnya tim berinisiatif untuk kembali ke pos 2. Perjalanan turun kami
ditemani dengan hujan yang kadang ada dan kadang tidak. Waktu yang ditempuh
untuk turun dari pos 5 hingga ke pos 2 rupanya sangat sebentar, kurang lebih
hanya 50 menit. Sesampai di pos 2 kami langsung merapikan tenda, membersihkan
sampah, dan bersiap-siap untuk pulang. Walaupun saat itu sedang rintik tetapi
kami tetap berjaga-jaga menggunakan jas hujan. Benar saja, diperjalanan dari
pos 2 ke pos 1 hujan deras kembali kami rasakan. Cuaca seperti ini memaksa kami
untuk berhati-hati saat menuruni jalanan terjal karena cukup licin. Setelah beristirahat
dan menghangatkan diri sejenak di pos 1, kami harus kembali melawan hujan agar segera sampai di basecamp.
Syukurlah, tepat pukul 9 malam kami sampai di basecamp dengan selamat tanpa kekurangan satu hal pun. Rasa capai
kami terbayar. Puji syukur terus kami panjatkan kepada Tuhan. Walaupun kami
kehujanan sepanjang jalan, tapi petualangan ini tidak akan pernah kami lupakan.
Gunung Lawu benar-benar mengajari banyak hal. Penulis beruntung bisa tergabung
di dalam perjalanan ini. Selama di perjalanan pulang, penulis sempat memikirkan
beberapa hal. Rupanya benar kata orang-orang, keagungan Tuhan itu tiada
batasnya. Kita manusia hanyalah sebuah ‘atom’ atau ‘mikroba’ di mata Tuhan. Sangatlah
kecil. Tapi mengapa kita bisa begitu bangga saat tidak mampu menjaga harta
Tuhan yang jauh lebih besar dari diri kita? Manusia sudah berevolusi. Fisiknya semakin
dewasa. Tapi apakah akalnya berevelousi juga? Sepertinya hal ini tidak terjadi
pada semua orang. Belajarlah dari alam. Ia sangat rendah hati walaupun ia jauh
lebih besar dan luas dari manusia. Ia tidak punya akal seperti manusia, tapi ia
mengerti bagaimana cara memulihkan dirinya. Ia tidak memiliki emosi layaknya
manusia, tetapi ia mampu merasakan sakitnya di’keruk’ tanpa ampun. Alam tetap
lah wujud yang luas nan rendah hati. Tetapi jangan sampai membuat murka Sang
Pencipta. Renungkan hal ini : kita adalah wujud yang sangat kecil, berakal
budi, dan tidak akan pernah bisa hidup tanpa alam.
Tulisan
ini saya dedikasikan untuk semua orang yang paham kalau Bumi ini adalah
satu-satunya rumah kita. Kalau Bumi hancur, kita harus tinggal dimana? Selamat
hari Bumi.
-22
April 2018.
Ditulis oleh : Erista
Rebeca R.S (P.Biologi 2016)











Komentar
Posting Komentar