POTENSI EKOWISATA PASIR PUTIH KARAWANG DI AMBANG KETERBENGKALAIAN

Karya : Alessandra Josephine Lie Saragih


Setiap wilayah di Indonesia memiliki potensi untuk membangun ekowisata, apalagi wilayah Indonesia dianugerahi banyak keanekaragaman hayati yang semakin meningkatkan potensi. Ekowisata atau ekoturisme adalah wisata yang berwawasan lingkungan dengan memperhatikan aspek konservasi alam. Ekowisata tidak hanya berpusat kepada manusia dan pemenuhan kebutuhan manusia, seperti contohnya dijadikan sebagai sarana agar kegiatan ekonomi berjalan dan dinikmati estetika dari keindahan alam, tetapi juga berpusat pada alam itu sendiri. Ekowisata bertujuan untuk mengekspansi wilayah konservasi alam dan menjadi sarana jangka panjang untuk melindungi keanekaragaman hayati yang terdapat di wilayah tersebut. Salah satu contoh potensi ekowisata di Indonesia terdapat di salah satu kabupaten di Jawa Barat, yaitu Karawang. Karawang yang memiliki notabene sebagai ‘kota industri’ ternyata memiliki potensi dalam bidang ekowisata, yang lebih tepatnya merupakan ekowisata mangrove (bakau).Ekowisata mangrove ini bertempat di Karawang, lebih tepatnya di Pasir Putih yang merupakan salah satu desa di Karawang. Munculnya ekowisata ini berawal dari kekhawatiran seorang pejabat suatu perusahaan yang menyadari bahwa pada daerah tersebut terjadi abrasi yang cukup parah, padahal masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian nelayan di daerah tersebut sungguh bergantung pada hasil laut. Kekhawatiran ini menghasilkan ‘buah yang manis’ bagi masyarakat sekitar dan keanekaragaman hayati di Pasir Putih dengan solusi ditanamkannya pohon bakau di daerah tersebut. Setelah berhasil dengan beberapa pohon, dilakukanlah replikasi pohon bakau yang cukup masif. Keanekaragaman hayati di tempat tersebut—khususnya rajungan—memiliki ‘rumah’, ratusan warga di daerah tersebut pun akhirnya terhindar dari abrasi dan perekonomian warga terbantu dengan adanya ekowisata ini. Wilayah ini akhirnya menjadi salah satu tempat wisata di Karawang, walau belum sesohor Loji dan Pantai Tanjung Pakis.Di tempat ekowisata ini, terdapat beberapa wahana permainan dan spot-spot foto yang dapat menarik perhatian kawula muda. Sayangnya, masih banyak yang harus diperbaiki dari tempat ekowisata ini. Tempat ini sama sekali belum terjamah oleh Pemerintah Kabupaten Karawang, yang pada akhirnya membuat warga di sekitar ekowisata mangrove Pasir Putih kesulitan untuk memelihara tempat ini. Sistem pemeliharaan tempat ini masih swadaya, sehingga banyak infrastruktur dan fasilitas yang dibangun seadanya. Selain itu, untuk mengakses wilayah Pasir Putih cukup sulit dan letaknya jauh dari pusat kota Karawang. Kurangnya promosi juga menjadi pengaruh besar bagi kurangnya pertumbuhan ekowisata ini. Selain itu, terdapat ancaman lain yang berpotensi menghambat perkembangan ekowisata ini, yaitu ancaman rusaknya lingkungan akibat bahan kimia. Pada tahun 2020, tumpahan minyak mencemari wilayah Pantai Pasir Putih dan daerah di sekitar ekowisata mangrove. Tumpahan minyak tersebut mengendap di dasar laut, hal ini mengurangi jumlah rajungan secara drastis dan juga mencemari pohon mangrove. Hal ini merugikan para nelayan rajungan dan ekowisata mangrove, juga berpotensi merusak terumbu karang dan tambak di sekitarnya. Hal menjadi tantangan besar untuk kelanjutan dari Ekowisata Mangrove Pasir Putih.Agar tempat Ekowisata Mangrove Pasir Putih dapat benar-benar menjadi ekowisata dalam jangka waktu yang panjang, seharusnya pemkab turun tangan untuk membantu dan melakukan usaha untuk memberhentikan hal-hal yang berpotensi merusak tempat ini. Mengapa pemkab harus turun tangan untuk membantu pengembangan tempat ini? Karena secara faedah, ekowisata ini memiliki banyak keuntungan dan berpotensi mengembangkan tempat wisata di Kabupaten Karawang yang secara kuantitas masih sangat terbatas. Selain menguntungkan siapapun yang terlibat dan merasakan faedahnya, Ekowisata Mangrove Pasir Putih nantinya juga turut membantu menjaga kesediaan dan pertumbuhan hewan dan keanekaragaman hayati yang terdapat di pohon-pohon mangrove. Hingga pada akhirnya pemaksimalan ekowisata ini tidak hanya antroposentris, tetapi juga ekosentris.


Citations:

1. Aprian, D. (2020, January 20). Rajungan Langka di Musim Panen, Nelayan Pasir putih Menjerit Halaman all. KOMPAS.com. Retrieved September 13, 2022, from

https://regional.kompas.com/read/2020/01/20/15551351/rajungan-langka-di-musim-panen-nelayan-pasir-putih-menjerit?page=all

2. Brown, J.H. (2014), Why are there so many species in the tropics?. J.Biogeogr., 41: 8-22. https://doi.org/10.1111/jbi.12228

3. Poerwanto, E. (2019, August 17). Karawang Kembangkan Ekowisata Mangrove. Bisniswisata. Retrieved September 12, 2022, from

https://bisniswisata.co.id/karawang-kembangkan-ekowisata-mangrove/

4. Redaktur. (2022, May 5). Hutan Makin Lebat, Wisata Mangrove pasirputih Perlu Revitalisasi "duit" Pemkab Karawang. PELITAKARAWANG. Retrieved September 12, 2022, from

https://www.pelitakarawang.com/2022/05/hutan-makin-lebat-wisata-

mangrove.html

5. Yulianto, A. (2019, August 8). 5.000 mangrove di Karawang Terpapar

Limbah spill oil . Republika Online. Retrieved September 13, 2022, from

https://www.republika.co.id/berita/pvwm5w396/5000-mangrove-di-

karawang-terpapar-limbah-spill-oil

6. https://ecotourism.org/what-is-ecotourism/ Retrieved September 12, 2022.



Komentar