Laguna Weekuri Sebagai Ekowisata ‘Surga’ Di Sumba Barat Daya

Karya : Handrianus Eka Uma

Pengantar

Menurut definisinya, ekowisata merupakan tempat wisata alami yang memadukan pelestarian lingkungan, mengkonservasi kehidupan dan menunjang perekonomian warga sekitar. Hal ini dikatakan dalam The Ecotourism Society (1990). Laguna Weekuri adalah ekowisata unggulan Kabupaten Sumba Barat Daya. Laguna Weekuri adalah surga kecil yang ada di Kecamatan Kodi, Sumba Barat Daya, NTT. “Air di Laguna Weekuri sangat jernih kebiruan dan sangat tenang. Saya sangat merasa nyaman dan senang ketika datang dan mandi di Laguna Weekuri. Laguna ini adalah surga yang dititipkan Tuhan untuk masyarakat di Kodi, NTT,” kata Flaviana Huda salah seorang tokoh masyarakat di Kodi. Laguna Weekuri berbentuk bulat oval. Laguna ini terletak persis bersebelahan dengan laut. Laguna ini dipisahkan dengan batu karang yang kokoh namun berongga di bagian bawah. Dari rongga itulah air laut mengalir dan memenuhi laguna Weekuri. Air di Laguna Weekuri sangat tenang dan aman ketika orang ingin berenang dan menikmati suasana santai. Bunyi debur ombak yang menabrak karang terdengar jelas ketika orang-orang berkunjung di. Laguna Weekuri. Pemandangan yang ada di sekitar Weekuri amatlah indah. Sunrise dan sunset yang bisa disaksikan dari laguna Weekuri sangat sempurna. Pemandangan siang hingga sore tetap terlihat indah karena pengunjung dimanjakan dengan hamparan birunya air laguna, birunya lautan dan suasana lingkungan yang hijau dan asri. Saat ini Laguna Weekuri dikelola oleh pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya dalam kerja sama dengan masyarakat sekitarnya. Fasilitas seperti toilet umum, tempat parkir, jembatan di atas karang yang mengelilingi Laguna Weekuri, dan warung-warung di sekitar laguna sudah tersedia. Jalan menuju laguna sudah nyaman dan bagus. Perjalanan dari Bandara Tambolaka menuju Weekuri bisa ditempuh dalam waktu 30 - sampai 40 menit. Dampak Ekowisata Laguna Weekuri (1 Hal) Menurut Wall, sebuah area ekowisata termasuk dalam pariwisata pokok untuk tujuan ekonomi seperti: menyediakan kesempatan kerja, untuk meningkatkan standar kehidupan, dan dalam hal pariwisata internasional untuk menghasilkan pemasukan bagi negara. Pariwisata dipandang sebagai alat pembangunan dan sebagai sarana diversifikasi ekonomi (Wall, 1995: 57). Dari Pendapat Wall ini, kita bisa melihat bahwa setiap destinasi ekowisatapada dasarnya memberikan dampak yang sangat bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat secara ekonomi. Dampak positif ekowisata dapat dijelaskan secara mendalam oleh Damanik dan Weber (2006) seperti dikatakan oleh Ties (2000). Damanik dan Weber menjabarkan beberapa prinsip ekowisata: meminimalisir pencemaran lingkungan dan budaya lokal akibat kegiatan wisata; membangun kesadaran dan penghargaan atas lingkungan dan budaya di destinasi wisata baik pada diri wisatawan, masyarakat lokal, maupun pelaku wisata lainnya; memberikan keuntungan finansial secara langsung bagi keperluan pelestarian melalui kontribusi atau pengeluaran ekstra wisatawan; memberikan keuntungan finansial dan pemberdayaan bagi masyarakat lokal dengan menciptakan produk wisata yang mengedepankan nilai-nilai lokal.1 Penulis sangat setuju dengan pendapat Damanik dan Weber. Ekowisata di Laguna Weekuri sampai saat ini mengalami semua hal-hal di atas. Hal yang paling nyata adalah masyarakat sekitar lebih sejahtera secara ekonomi. Selain dampak positif yang dialami dari ekowisata Laguna Weekuri, kita tentu menemukan dampak-dampak negatif. Beberapa dampak negatif ekowisata adalah pembuangan sampah dari wisatawan dan masyarakat tidak pada tempatnya. Laguna Weekuri memang terbilang bersih namun bila kita melihat dengan cermat, tidak semua area sekitar laguna diperhatikan kebersihannya. Pengunjung maupun masyarakat sekitar belum terbiasa untuk membuang sampah pada tempatnya. Pembuangan sampah yang sembarangan tentu bisa mengakibatkan bau yang tidak sedap dan tanaman di sekitar bisa mati. Selain itu, masyarakat di sekitar seringkali membuat wisatawan lokal maupun internasional tidak nyaman. Ada fenomena di mana anak-anak meminta-minta kepada pengunjung. Hal ini tentu membuat tidak nyaman. Kerja sama pemerintah, masyarakat serta pengunjung perlu terus menerus dilakukan agar Laguna Weekuri tetap terjaga kebersihannya dan orang yang datang menjadi nyaman. Pelatihan keterampilan melalui kursus adalah usulan penulis agar anak-anak serta masyarakat sekitar menjadi terampil menghasilkan karya dan bisa dijual secara ekonomis. Semoga Laguna Weekuri, Surga kecil di bumi Sumba, NTT selalu nyaman, asri, bagus untuk konservasi dan memberi dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar.


1Diah Irma Ayuningtyas dan Arya Hadi Dharmawan, “Dampak Ekowisata terhadap Kondisi Sosio-Ekonomi

dan Sosio-Ekologi Masyarakat di Taman Nasional Gunung Halimun Salak”. Vol. 05, No. 03. 2011. hal 248.



Komentar